INFONUSANTARATIMUR.COM – Kematian Juro Lokbere dan Anius Kerebea tidak berdiri pada narasi “sakit” semata. Faktanya mereka mengalami gangguan tidak wajar secara bersamaan di satu markas, lalu meninggal dunia dalam rentang waktu sangat dekat. Hal tersebut tentunya menjadi kejanggalan serius dan pola ini sulit dijelaskan sebagai kematian alami, terlebih di lingkungan kelompok bersenjata yang tertutup, minim pengawasan medis, serta rentan ketegangan internal.
Ketidakkonsistenan keterangan resmi yang disampaikan oleh TPNPB-OPM semakin memperkuat dugaan pembunuhan internal. Tidak ada penjelasan medis yang jelas, tidak ada transparansi penyebab sakit, dan tidak ada rilis independen yang memverifikasi klaim tersebut. Sebaliknya, yang muncul adalah pengakuan adanya “gangguan tidak wajar” yang diindikasikan sebagai klasik konflik internal, kemungkinan keracunan, atau kekerasan tersembunyi yang kerap terjadi dalam friksi kepemimpinan dan disiplin kelompok bersenjata.
Dengan rangkaian kejanggalan itu, kesimpulan paling masuk akal adalah terjadinya pembunuhan oleh sesama anggota TPNPB-OPM. Kematian Juro Lokbere dan Anius Kerebea mencerminkan keretakan serius di tubuh organisasi. Kekerasan tidak hanya diarahkan keluar, tetapi juga memakan korban dari dalam. Ini menyingkap realitas rapuhnya solidaritas TPNPB-OPM dan membantah klaim persatuan yang selama ini dikumandangkan.














