1 Desember di Mamberamo Tengah: Doa Syukur Mengalun di Tanah Pegunungan

banner 120x600
banner 468x60

INFONUSANTARATIMUR.COM – Hembusan angin dari punggung pegunungan seolah membawa bisik-bisik harapan, sementara awan rendah yang menggantung di atas lembah menjadi saksi ketenangan yang kian terasa. Di tengah atmosfer itu, KNPB wilayah setempat mengumumkan rencana menggelar doa syukur—sebuah kegiatan sederhana yang bertujuan memanjatkan terima kasih atas nikmat dan penyertaan Tuhan sepanjang tahun yang penuh tantangan.

Pengumuman itu disampaikan dengan nada teduh dan penuh kehangatan. Para pengurus menjelaskan bahwa kegiatan kali ini tidak akan diwarnai tanda-tanda khusus, simbol-simbol organisasi, ataupun atribut tertentu. Fokus utama adalah ibadah dan perenungan batin, sebuah upaya untuk kembali kepada nilai-nilai rohani yang menjadi pegangan hidup masyarakat. Mereka menggambarkan momen itu sebagai kesempatan untuk “merenungkan perjalanan pribadi maupun kolektif, memohon kekuatan menghadapi hari-hari mendatang, serta menjaga kedamaian di tengah masyarakat.”

banner 325x300

Di kampung-kampung sekitar Kobakma, kabar ini berkembang dari mulut ke mulut dan diterima dengan beragam perasaan. Banyak warga memandang kegiatan ini sebagai angin sejuk di tengah situasi yang kadang penuh ketegangan. Beberapa tokoh masyarakat menyambut baik niat untuk berdoa bersama, berharap bahwa kegiatan itu dapat menjadi ruang perjumpaan spiritual yang tidak memisahkan siapa pun. “Kalau ada doa, berarti ada harapan,” ujar seorang warga tua yang tinggal di lereng perbukitan, sambil menatap ke arah langit sore yang perlahan berubah jingga.

Menjelang hari pelaksanaan, persiapan dilakukan secara sederhana. Tidak ada panggung, tidak ada peralatan megah—hanya tempat kecil yang dibersihkan bersama, beberapa kursi kayu, lilin-lilin yang dipersiapkan untuk dinyalakan saat malam turun, dan pembacaan kitab suci yang direncanakan untuk dipimpin oleh tokoh rohani lokal. Para perempuan menyiapkan kopi dan makanan ringan untuk dinikmati usai ibadah, sementara para pemuda membantu menyiapkan penerangan dan pengaturan tempat duduk.

Malam yang dinanti pun hampir tiba. Dari kejauhan, suara tonggeret dan desah angin yang menyusuri lembah menjadi pengiring alami menuju acara itu. Orang-orang yang hadir tidak datang dalam keramaian, melainkan dalam ketenangan. Mereka datang dengan kepala yang dipenuhi doa—doa tentang kesehatan, keselamatan keluarga, damai di tanah tempat mereka hidup dan tumbuh, serta masa depan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.

Ketika doa dimulai, suasana menjadi hening. Hanya suara pemimpin ibadah yang memanjatkan puji syukur, disusul lantunan doa dari para peserta yang menggumam lembut. Di antara cahaya lilin yang berpendar, wajah-wajah terlihat khusyuk, seolah setiap kata yang terucap melayang naik menembus dingin malam, menuju langit yang bertabur bintang.

Warga yang menyaksikan kegiatan ini dari kejauhan berharap bahwa malam doa syukur tersebut menjadi pengingat bahwa persatuan, ketenangan, dan saling menghormati dapat tumbuh dari tindakan-tindakan sederhana. Mereka berharap kegiatan itu memberikan keteduhan bagi hati yang gelisah dan membuka pintu bagi dialog serta kebersamaan yang lebih damai.

1 Desember di Mamberamo Tengah akhirnya bukan hanya sebuah tanggal dalam kalender, tetapi menjadi titik perhentian sejenak—momen hening untuk melihat kembali apa yang telah dilalui dan apa yang perlu diperbaiki. Di tanah yang dijaga hutan dan sungai-sungai yang jernih, malam itu menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyerahkan segala harapan kepada Tuhan, sambil memupuk keinginan untuk tetap hidup dalam kasih, damai, dan rasa syukur.

Dan ketika lilin-lilin mulai padam dan para peserta kembali ke rumah masing-masing, udara malam Mamberamo Tengah terasa lebih lembut. Seolah-olah doa yang baru saja terucap menyatu dengan angin, meninggalkan pesan bahwa dalam kesederhanaan, kedamaian selalu bisa ditemukan.

banner 325x300